Rabu, 05 Oktober 2011

HAKIKAT PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

1.      HAKIKAT ANAK DIDIK
Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, hakikat anak didik terdiri dari beberapa
 macam:
1.      Anak didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya maka semua keturunannya menjadi anak didiknya didalam keluarga.
2.      Anak didik adalah semua anak yang berada dibawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti di sekolah, pondok pesantren, tempat pelatihan, sekolah keterampilan, tempat pengajian anak-anak seperti TPA, majelis taklim, dan sejenis, bahwa peserta pengajian di masyarakat yang dilaksanakan seminggu sekali atau sebulan sekali, semuanya orang-orang yang menimba ilmu yang dapat dipandang sebagai anak didik.
3.      Anak didik secara khusus adalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengerahan, nasihat, pembelajaran, dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses kependidikan.
Anak didik dapat dilihat dari beberapa tingkatan, misalnya anak didik dapat dilihat dari usia, sejak anak didik di taman kanak-kanak, tingkat SLTP-SMA, dan mahasisiwa yang berkaitan dengan usia anak didik. Demikian pula, anak didik dilihat dari perkembangan psikologisnya, misalnya perkembangan psikologis anak didik usia 12-15 tahun di SLTP berbeda dengan perkembangan psikologis anak didik usia 16-19 tahun di SMA, demikian pula perkembangan psikologis anak didik di perguruan tinggi, bahkan perkembangan cara berpikirnya pun berubah menuju kedewasaan berpikir, terutama dalam menyusun cara berpikir logis dan sistematis.
Anak didik merupakan subjek utama dalam pendidikan. Para pendidik selalu berhubungan dengan anak didik, tapi setelah tugas pendidik selesai, anak didik dituntut mengamalkan ilmu dalam kehidupan bermasyarakat. Anak didik dituntut hidup mandiri, mampu menyelesaikan tugas-tugas pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Tugas utama anak didik adalah belajar, menurut ilmu dan mempraktikkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila anak didik menerima mata pelajaran ilmu agama Islam yang didalamnya terdapat materi ibadah shalat, ilmu yang diterimanya dapat menjadi penuntun kehidupan ibadahnya. Ilmu tentang shalat bukan hanya untuk dihafal, tetapi harus diamalkan, sebagaimana ilmu akhlak, mengajarkan tata cara berprilaku menurut ajaran Islam maka ilmu akhlak pun bukan untuk dihafal, tetapi untuk diamalkan dalamkehidupan sehari-hari.
Dalam psikologi belajar, sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarah (2002: 46) anak didik yang mengerti tugasnya dalam belajar adalah anak didik yang konsentrasinya penuh dalam memperhatikan pelajaran. Anak didik yang mendengarkan guru yang mengajar, memperhatikan dan mengarahkan pandangannya khusus kepada guru yang sedang mengajar di depan kelas. Aktivitas belajar demikian sangat membantu peningkatan pemahaman anak didik, tetapi perlu diperhatikan bahwa konsentrasi dalam belajar harus diiringi oleh fokusnya alam pikiran kepada yang dilihat dan didengar. Meskipun pandangan mata kearah guru yang sedang mengajar, jika pikirannya melayang-layang entah ke mana, tidak akan ada belajar. Karena pikiran yang melayang-layang dan kurang konsentrasi dalam belajar tidak mampu meregup penjelasan yang disampaikan oleh pendidik.
Keberhasilan anak didik ditentukan tiga hal yang mendasar, yaitu:
1.      Sikapa anak didik yang mencintai ilmu dan pendidiknya.
2.      Sikap anak didik yang selalu konsentrasi dalam belajar.
3.      Tumbuhnya sikap mental yang dewasa dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan.
Menurut aliran kognitivisme, keberhasilan pendidikan atau keberhasilan belajar adalah terjadinya perubahan mentalitas anak didik menjadi lebih baik, lebih dewasa, dan lebih cerdas dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, anak didik yang berhasil adalah anak didik yang sikap mentalnya berubah menjadi lebih dewasa atau menjadi suri tauladan yang bagi umat manusia.
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Anak didik bukan binatang, tetapi ia adalah manusia yang mempunyai akal. Anak didik adalah unsur manusiawi yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan sebagai pokok persoalan dalam dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan, anak didik memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai subjek pembinaan. Jadi, anak didik adalah kunci yang menentukan untuk terjadinya interaksi edukatif.
Pada kenyataannya, anak didik itu terdiri atas anak didik dengan sifat-sifat yang berbeda, yaitu:
1.      Anak didik yang belum mengerti apa pun tentang ilmu pengetahuan atau anak didik yang hanya mengenal sesuatu, tetapi belum mengerti dan memahami sesuatu. Anak didik yang duduk di taman kanak-kanak atau sekolah dasar sesungguhnya sebagai anak didik yang belum mengerti dan memahami sesuatu, bahkan huruf pun belum mengenal. Oleh karena itu, sebelum memasuki lembaga pendidikan, orang tuannya bertindak sebagai pendidik pertama yang memperkenalkan semua ilmu yang awal bagi anak-anaknya, misalnya tentang bentuk huruf, bunyi huruf, dan tata cara menulis huruf, demikian pula dengan angka.
2.      Anak didik yang baru mengenal dan mengetahuinya, tetapi belum begitu memahami ilmu pengetahuan yang dimaksudkan.
3.      Anak didik yang sudah mengenal, mengetahui, memahaminya, tetapi belum mengamalkannya dalam kehidupan.
4.      Anak didik yang telah memahami ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam kehidupan.
Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, anak didik yang baru taraf pengenalan adalah anak didik yang masih dalam keadaan fitrah, belum ada setitik dosa dalam kehidupannya. Hal itu menjadi tanggung jawab pendidik dalam memberikan warna bagi anak didiknya. Dengan demikian, didiklah anak didik yang masih fitrah dengan nilai-nilai agama yang benar, sebagaimana seorang bayi yang diazani ketika ia baru dilahirkan.
Anak yang baru dilahirkan pun memerlukan pendidikan, bahkan sejak ia dalam kandungan ibunya. Pada umumnya, sikap dan kepribadian anak didik ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihan-latihan, yang dilalui sejak masa kecil. Pendidikan merupakan kebutuhan hidup dan tuntutan kejiwaan. Anak yang baru lahir memawa sifat-sifat keturunan, tetapi ia tak berdaya dan tak mampu, baik secara fisik maupun mental. Bakat dan mental yang diwariskan orang tuanya merupakan benih yang perlu dikembangkan. Semua anggota jasmani membutuhkan bimbingan untuk tumbuh. Demikian juga, jiwanya membutuhkan bimbingan untuk berkembang sesuai iramanya masing-masing sehingga suatu waktu anak mampu membimbing diri sendiri. (Syaiful Bahri Djaramah, 2005:53)
Syaiful Bahri Djamarah mengatakan,” Anak yang baru lahir belum mampu menghadapi kehidupan, tetapi tergantung pada lingkungan. Anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik, ia akan baik. Demikian juga sebaliknya, bakat kurang berperan penting dalam membentuk pribadi anak karena bakat tak mampu tumbuh dan berkembang pada situasi yang tak sesuai. Bakat akan tumbuh dan berkembang pada situasi yang sesuai. Bakat atau sifat keturunan dengan interaksi lingkungan memengaruhi perkembangan anak. Hal ini identik dengan pendapat Morgan, yang mengatakan bahwa gen mengatur sifat menurun tertentu yang mengandung satuan informasi genetika. Gen ini meupakan satuan kimia yang diwariskan dalam kromosom yang dengan interaksi lingkungan memengaruhi atau menentukan perkembangan suatu individu. Demikian juga, perpaduan antara bakat yang dibawa dari kelahiran serta pe.ndidikan yang tepat, merupakan cara yang paling tepat dalam proses pembentukan anak di masyarakat. Pendapat ini didukung pula oleh William Stern dengan teori konvergensinya.
Perkembangan dan kematangan jiwa seseorang anak dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Lingkungan dapat dijadikan tempat untuk kematangan jiwa seseorang. Dengan demikian, baik-tidaknya sikap seseorang ditentukan oleh dua faktor tersebut.
Anak yang baru lahir selalu menuntut penyempurnaan dirinya, bahkan sejak ia dalam kandungan. Anak dalam kandungan melalui ibunya mengalami proses pematangan diri, baik fisik, mental, dan emosional. Hubungan batin antar ibu dan anak dala kandungan tejalin erat sekali. Kegoncangan emosional dan keterbatasan makan yang dilakukan ibu memengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan. Perkembangan dalam arti kuantitatif maupun kualitatif. Dengan perantaraan ibu, anak dalam kandungan memenuhi tuntutan kejiwaannya untuk mencapai perkembangan  tertentu.
Begitu besarnya pengaruh ibu terhadap anak sehingga pendidikan anak dapat dilahirkan selama dalam kandungan. K.H.E.Z. Muttaqin, mengatakan bahwa anak harus diberikan pendidikan sedini mugkin, bahkan sejak kedua orang tuanya memasuki jenjang perkawinan, harus sudah mengalkulasikan bagaimana anak-anak yang akan mereka lahirkan nanti. Pergaulan suami istri diawali dengan doa agar dengan doa itu, setan tidak ikut campur (menurut ajaran islam), karena dalam tetes air suci (ovum/mani) yang tersimpan dalam rahim istri tidak terdiri dari bahan-bahan jasmaniah semata, tetapi juga terkandung benih watak dan tabiat calon anak. Makanan ibu yang mengandung akan menjadi vitamin anak kelak. Demikian juga, kelakuan ibu dan bapak akan menjadi vitamin jiwa calon anak.
Pendekatan filosofis dalam memahami karakteristik anak didik adalah tiga perbedaan anak didik yang dihadapi. Tiga perbedaan tersebut adalahsebagai berikut.

1.      Perbedaan Biologis
Perbedaan biologis berkaitan dengan keadaan jasmani yang normal, mungkin ada yang tubuhnya cacat, dan keadaan biologis lainnya. Jika pendidik kurang memperhatikan perihal tersebut, pendidikan berjalan kurang sempurna.

2.      Perbedaan Intelektual
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2005:57), intelegensi merupakan salah satu aspek yang selalu aktual untuk dibicarakan dalam dunia pendidikan. Keaktualan itu karena intelegensi adalah unsure yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar anak didik.
Menurut ahli psikologi, yakni William Stern, intelegensi merupakan daya untuk menyesuaikan diri secara mudah dengan keadaan baru dengan menggunakan bahan-bahan pikiran yang ada menurut tujuannya.
Intelegensi adalah kemampuan untuk memahami dan beradaptasi dengan situasi yang baru dengan cepat dan efektif, kemampuan untuk menggunakan konsep yang abstrak secara efektif, dan kemampuan untuk memahami hubungan dan mempelajarinya dengan cepat.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya intelegensinya seseorang, dikembangkanlah instrument yang dikenal dengan istilah test inteligensi dan gambaran mengenai hasil pengetesan kemudian dikenal dengan intelegence quotient, disingkat dengan IQ.
Berdasarkan hasil tes inteligensi (intelligence quotient), hasil bagi yang diperoleh dari pembagian umur kecerdasan dengan umur sebenarnya menunjukkan kesanggupan rata-rata kecerdasan seseorang. Pembagian itu adalah:
1.      Luar biasa (genius) IQ   diatas 140
2.      Pintar (begaaf)               110-140
3.      Normal (biasa)               90-110
4.      Kurang pintar                 70-90
5.      Bebal (debil)                   50-70
6.      Dungu (imbicil)              30-50
7.      Pusung (idiot)                 dibawah 30

3.      Perbedaan Psikologi
Keadaan psikologi anak didik dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, lingkungan social, dan tentu oleh lingkungan sekolahnya. Para pendidik secara langsung dapat mempengaruhi psikologis anak didik, misalnya pendidik yang terkesan galak, mudah tersinggung dan kurang kreatif, akan menyebabkan anak didiknya menjadi kurang menyukai pendidiknya secara pribadi. Oleh karena itu dibutuhkan sinergitas antara anak didik dengan semua lingkungan disekitarnya. Bahkan buku bacaan yang diwajibkan kepada anak didik agar dibaca dan dipelajari akan memberikan pengaruh psikologis anak didiknya. Oleh sebab itu, semua yang berkaitan dengan lingkungan anak didik memberikan pengaruh kepada anak didik secra langsung atau tidak langsung.
            Beberapa hal yang terkait dengan hakikat peserta didik yaitu:
1.      Peserta didik bukan miniature orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri.
2.      Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya, yang harus disesuaikan dalam proses pendidikan.
3.      Peserta didik mempunyai kebutuhan diantaranya kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih saying, rasa harga diri dan realisasi diri.
4.      Peserta didik memilki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari faktor endogen(fitrah) maupun eksogen(lingkungan) yang meliputi segi jasmani, inteligensi, social, bakat, minat, dan lingkungan yang memepengaruhinya.
5.      Peserta didik dipandang sebagai kesatuan system manusia walaupun terdiri dari banyak segi tetapi merupakan satu kesatuan jiwa raga.
6.      Peserta didik merupakan objek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif. Anak didik bukanlah sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima, mendengarkan saja(Abdul Mujib dan Muhaimin, 1993: 177-181).
Ada beberapa aspek peserta didik yang harus diperhatikan dalam pendidikan Islam, diantaranya:
1.      Potensi peserta didik yang harus diaktualisasikan, yaitu:
a.       Hidayah wujdaniyah yaitu potensi yang berwujud insting atau naluri yang melekat dan langsung berfungsi pada saat manusia dilahirkan dimuka bumi ini.
b.      Hidayah hissiyyah yaitu potensi berupa kemampuan indrawi sebagai penyempurnaan hidayah pertama.
c.       Hidayah aqliyah yaitu potensi akal sebagai penyempurnaan dari kedua hidayah diatas, sehingga memiliki kemampuan berpikir dan berkreasi menemukan ilmu pengetahuan.
d.      Hidayah diniyah yaitu petunjuk agama berupa keterangan tentang hal-hal yang menyangkut keyakinan dan aturan perbuatan yang tertulis dalam Al-Quran dan Sunnah.
e.       Hidayah Taufiqiyah yaitu hidayah khusus yang diharapkan diberikan Allah petunjuk Allah yang lurus berupa hidayah dan taufik agar manusia selalu berada dalam keridhaan Allah (Ramayulis, 2004:102).
2.      Kebutuhan peserta didik baik kebutuhan jasmani (primer) seperti makan, minum dan sebagainya maupun kebutuhan rohaniah (sekunder) yang meliputi kebutuhsn kasih sayang, akan rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, sukses dan kebutuhan akan sesuatu kekuatan pembimbing atau pengendalian diri manusia. Adapun kebutuhan yang paling esensi adalah kebutuhan terhadap agama, sehingga manusia disebut dengan makhluk yang beragama(homo religious). Kebutuhan-kebutuhan peserta didik inilah harus diperhatikan oleh setiap pendidik sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang mencapai kematangan psikis dan fisik.
Dalam proses pendidikan kedudukan sebagai siterdidik, bukanlah sesuatu yang tidak penting. Seseorang yang belum dewasa, misalnya, mengandung banyak sekali kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran maupun perimbangan bagian-bagiannya. Dalam segi rohaniah sianak mempunyai bakat-bakat yang masih harus dikembangkan, mempunyai kehendak, perasaan dan pikiran yang belum matang.
Namun demikian tidaklah seluruh persoalan pendidikan tergantung kepada sipendidik. Siterdidik memegang peranan yang penting pula. Ia yang memiliki apa-apa yang akan dikembangkan, ia yang akan mengolah apa-apa yang akan diajarkan kepadanya. Peranan ini makin lama makin besar dan pada masa dewasa seluruh pertanggung jawab terletak dibahu siterdidik sendiri. Kalau perkembangan kepribadian sianak berjalan normal maka makin dekat ke ‘’kedewasaan’’ gejala berdiri sendiri jasmaniah rohaniah akan makin jelas Nampak, dengan kata lain akan dapat diharapkan bahwa pertanggungjawab (titik berat peranan) akan makin beralih kepadanya.
Islam menjelaskan hak-hak para pelajar yang utama, yang pantas disebut disini adalah mempermudah jalan tercapainya ilmu pengetahuan tanpa membedakan diantara orang-orang kaya dengan oranng-orang miskin.
Para pelajra juga dinasehatkan dan dibekali dengan petunjuk-petunjuk diantaranya:
a.       Seorang murid harus membersihkan hatinya dari kotoran sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah semacam ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan bersih hati. Bersih hati maksudnya menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti dengki, benci, menghasut, takabbur, berbangga-bangga memuji diri dan menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti benar, taqwa, ikhlas, merendahkan diri dan ridha.
b.      Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri dengan Tuhan, dan bukan untuk bermegah-megah dan mencari kedudukan.
c.       Dinasehatkan agar pelajar tabah dalan memperoleh ilmu pengetahuan dan supaya merantau.
d.      Wajib untuk menghormati guru dan bekerja untuk kerelaan guru, dengan mempergunakan bermacam-macam cara.
Sesuai dengan itu pula Al-‘Abdari menasehatkan para pelajar agar jangan mengganggu guru dengan memperbanyak pertanyaan bila ia memang tidak suka dengan demikian, jangan berlari dibelakangnya bila berlari dijalanan. Az-Zarnuzi menjelaskan pelajar harus patuh kepada guru, dan dalam hal ini ia berkata, sebagian dari kewajiban pelajar ialah jangan berjalan di depan guru, jangan duduk di tempat guru, dan jangan berbicara kecuali sudah mendapat ijin dari dia. Dalam hal ini Ghazali mengemukakan beberapa nasehatnya yaitu, murid mendahului memberi salam kepada gurunya, dan jangan bercakap banyak di depannya, jangan tertawa bila berbicara di depan guru.
Thasy Kubra Zadeh memperingatkan pelajar supaya tidak menganggap rendah  sedikitpun  pengetahuan-pengetahuan apa saja dengan sebab ia tidak mengetahuinya tetapi ia harus mengambil bagian-bagian dari ilmu yang pantas baginya dan tingkatan yang wajib baginya. Kemudian disamping itu ia harus bertekad untuk belajar sampai akhir hayatnya dan supaya merantau ke negeri-negeri yang jauh untuk mencari guru.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar